Identitas Pondok

IDENTITAS MBS YOGYAKARTA

Dalam rangka melaksanakan amanat dan pesan pendiri persyarikatan Muhammadiyah untuk terus menjadi gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, MBS Yogyakarta adalah amal usaha yang menegaskan identitasnya sebagai berikut:

  1. MBS Sebagai Sekolah Kader Muhammadiyah

Sebagai sekolah kader, MBS turut mengenalkan kepada peserta didik, santriwan maupun santriwati tentang profil dan identitas Muhammadiyah secara menyeluruh. Hal ini bisa dibuktikan dengan dua aspek; yaitu teori dan praktik. Dalam aspek teori, MBS memasukkan mata pelajaran Kemuhammadiyahan layaknya sekolah kader Muhammadiyah yang lain ke dalam kurikulum sekolah di segala jenjangnya dengan penambahan materi Agama dan Bahasa menjadi lebih banyak. Langkah ini diambil sebagai upaya pengenalan sekaligus pematangan ideologi organisasi.

Sedangkan dari aspek aplikasi dan praktik, MBS mengenalkan dan mengajarkan kepada seluruh santri tatacara ibadah yang telah ditetapkan dalam himpunan tarjih Muhammadiyah sebagai bentuk penyeragaman. Dalam aspek praktik juga, MBS menerapkan kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler di dalam pesantren yang berbasis organisasi otonom Muhammadiayah. Seperti, kepanduan Hizbul Wathan (HW), beladiri Tapak Suci (TS), organisasi siswa Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Komando Kesatuan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM).

Selain sebagai upaya pengenalan terhadap identitas dan profil Muhammadiyah, pelaksanaan kegiatan organisasi otonom juga mampu meyakinkan kepada santri bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang selalu berusaha memenuhi segala yang dibutuhkan oleh warga masyarakat dengan berbagai majelisnya.

Dan akhirnya, pelatihan dan pengkaderan ini bisa dinikmati dalam kehidupan kongkrit kemuhammadiyahan dengan mengirim para alumni ke daerah-daerah asal santri. Bahkan dalam perjalanan kembali ke daerah asal, para santri mendapatkan arahan dan bimbingan dari MBS serta dibekali surat keterangan lulus pengkaderan dan siap melakukan pengabdian yang ditujukan kepada pengurus cabang Muhammadiyah setempat.

2. MBS Sebagai Pencetak Ulama Intelektual dan Intelektual Ulama

Penggabungan dua kurikulum, umum (diknas) dan agama (pesantren) di hari dan jam efektif belajar, merupakan bentuk usaha MBS mencentak ulama intelektual dan intelektual ulama. Dengan cara itu, santri terfahamkan akan pentingnya pelajaran agama dan umum dalam satu waktu. Mengunggulkan keduanya dan tanpa mengabaikan salah satunya.

Sebagai pencetak ulama intelektual, MBS selalu mendorong dan memotivasi para santri untuk terus mendalami ilmu agama sebagai modal meniti kehidupan akhirat. Namun di samping itu, MBS tetap menekankan para santri untuk  berprestasi dalam ilmu-ilmu non agama di berbagai bidangnya sebagai bentuk persiapan mengahadapi tantangan hidup dunia yang global. Hal ini sesuai dengan pemahaman firman Allah SWT:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ )القصص: 77)

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash: 77)

Pada prinsipnya, apa yang sedang dilakukan oleh MBS dengan menggabungkan dua kurikulum, agama dan umum dalam porsi yang seimbang, merupakan upaya  memahamkan para santri bahwa agama dan dunia adalah dua hal yang perlu diperhatikan. Dan menempatkan keduanya pada tempat yang tepat merupakan keharusan. Memahami keduanya, agama dan dunia, semua membutuhkan ilmu yang menunjang. Imam As Syafii pernah menuturkan, “siapa saja yang menginginkan kehidupan dunia, maka dia perlu ilmu. Dan siapa saja yang menginginkan kehidupan akhirat, maka dia pun membutuhkan ilmu. Dan siapa pun yang menginginkan keduanya, maka dia pun perlu ilmu.”

Semangat MBS sebagai lembaga pencentak ulama intelektual dan intelektual ulama sangat erat kaitannya dengan nasihat K.H. A Dahlan yang sangat populer berbunyi, “Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.”

Dengan lahirnya ulama intelektual dan intelektual ulama, MBS berkeyakinan Muhammadiyah akan mempunyai kader yang lebih dinamis, inofatif, kreatif dan tanggap terhadap perubahan, mempunyai visi masa depan, bekerja dengan cerdas, berani dan lincah dalam menghadapi permasalahan dan tantangan. Di samping itu, tetap istiqomah dan teguh dalam memegang prinsip perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi Munkar.

3. MBS Sebagai Pencetak Kader Pemimpin Bangsa

MBS berkeyakinan bahwa tidak ada pemimpin mutlak dalam tatanan masyarakat. Dalam satu waktu, seorang yang disebut pemimpin dalam satu perkumpulan, namun bisa jadi ia juga seorang anggota biasa di perkumpulan yang lain. Atau, di satu kesempatan ia menjadi pemimpin dalam satu perkumpulan, namun di kesempatan lain ia menjadi anggota biasa dalam perkumpulan yang sama. Oleh sebab itu, MBS mengajarkan dan menerapkan kepada santri tentang jiwa pemimpin yang sejati. Yaitu, mampu memimpin dan siap dipimpin.

4. MBS Sebagai Pusat Keilmuan Islam

Sekalipun dalam hal ibadah, MBS menyeragamkan santri dengan tuntunan ibadah menurut paham putusan majelis tarjih, namun kajian-kajian kitab tetap diajarkan sebagai upaya memperluas wawasan keislaman para santri. Di antara kitab yang dikaji yaitu, Bulugh Al Maram karangan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Riyad As Shalihin  yang disusun oleh Al Imam An-Nawawi, dan Aisar At Tafasir karangan Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi. Kitab-kitab tersebut merupakan kitab hadits dan tafsir yang mencakup bidang ibadah, aqidah, serta akhlaq dan adab. Namun dalam bidang fiqih dan usul fiqih secara khusus mengkaji kitab Al Mulakhas Al Fiqhi yang disusun oleh Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan dan kitab Al Ushul fi Ilmi Al Ushul karangan Syaikh Shalih Al Utsaimin.

Ada juga kitab Mabahits fi Ulum Al Quran karangan Manna bin Khalil Al Qattan dalam bidang ilmu Al Quran. Sedangkan dalam bidang ilmu musthalah Hadits ada kitab Taisir Musthalah Al Hadits karangan Mahmud Thahhan An Nu’aimi.

Kitab-kitab tersebut di atas merupakan kitab berbahasa Arab yang tentunya membutuhkan alat tersendiri untuk memahami dan mengkajinya.  Oleh sebab itu, ilmu Nahwu dan Shorof merupakan pelajaran yang selalu ada di setiap jenjang pendidikan, muai kelas satu ( VII SMP) hingga kelas enam (XII SMA). Sejauh ini, muqarrar (buku panduan) nahwu yang digunakan di MBS adalah buku panduan yang disusun sendiri oleh tim penyusun muqarrar pensanren MBS yang disarikan dari Syarh ibnu ‘Aqil Alfiyah ibn Malik, Mutammimah Al Ajrumiyah, dll.

Di samping itu juga, MBS menerapkan empat unsur keterampilan bahasa atau Maharatu Al Lughah hampir di setiap kajian kitab . Maharatu Al Lughah tersebut adalah, Sima’i (mendengar), kalam (bicara), qira’ah (membaca) dan kitabah (menulis). Dengan memaksimalkan empat keterampilan ini,  santri diharapkan mampu membaca dan mendengarkan teks berbahasa Arab serta mampu menyampaikannya kembali, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

5.MBS Sebagai Pusat Pembinaan Akhlak (Karakter)

Pembinaan karakter merupakan nilai plus yang seharusnya mampu dihasilkan oleh setiap lembaga pendidikan, terlebih lembaga pendidikan yang bernaung di bawah persyarikaan Muhammadiyah. Dan MBS dengan penuh tanggung jawab  turut andil dalam upaya melakukan pembinaan karekter ini.

Istilah karakter sendiri menurut Pusat Bahasa Depdiknas, adalah bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat tabiat, temperamen dan watak. Sementara itu, yang disebut dengan berkarakter ialah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.

Jadi, pendidikan karakter adalah pendidikan membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya.

MBS sangat menyadari bahwa membentuk dan menanamkan karakter dalam diri setiap santri adalah pekerjaan yang sangat sulit dan berat serta membutuhkan waktu yang panjang. Oleh sebab itu, upaya ini (red, pembinaan karakter) tidak boleh  berhenti hanya pada jam belajar di kelas saja, tapi juga berlanjut hingga kegiatan di asrama dan kegiaan-kegiaan yang lain.

Sebagian karakter yang ditanamkan di lingkungan Muhammadiyah Boarding School adalah :

  1. Ibadah:
  2. Semangat menuntut ilmu
  3. Kejujuran
  4. Kedisplinan
  5. Kehidupan sosial dan pergaulan

 

  1. Profil Santri Muhammadiyah Boarding School

 

  1. Beraqidah kuat, dan tata mejalankan Ajaran Agama Islam sesuai tuntunan assunah.
  2. Menguasai ilmu syar’i dan ilmu umum secara seimbang
  3. Pribadi pelopor, penggerak dan penyempurna sistem nilai Islami di masyarakat di lingkungannya dan ummat pada umumnya.
  4. Kader dakwah yang siap diterjunkan dimasyarakat.
  5. Manusia tangguh dan kuat jiwa dan raga, serta pikiran untuk mengahadapi tantangan zaman yang semakin global.
  6. Pribadi berkarakter dan menerapkan norma-norma dalam segala tindak tanduk, pergaulan dan bermasyarakat.
  7. Siap memimpin dan dipimpin

 

Pin It on Pinterest