Dari Makassar Ustadz Arifin Berbagi Oleh-oleh (Part 2)

Dua hari menjalani training kepelatihan guru hebat di Makassar, Ustadz Arifin yang tergabung dalam wadah Mat Fis ToC training camp telah kembali dengan membawa gelar baru. Coach Arifin, mungkin seperti itu gelar yang disandang guru pengampu Matematika MBS murah senyum itu. Kepulangannya ke kota gudeg tentu saja membawa banyak cerita dan oleh-oleh yang ingin segera ditularkan kepada rekan seprofesinya. Seperti apa oleh-oleh khas dari petualangannya di kawah Mat Fis ToC di SSLC Makassar? Anda penasaran…….yuk kita simak aja, mudah-mudahan terinspirasi.

IGI (Ikatan Guru Indonesia) adalah sebuah Organisasi yang menaungi guru-guru baik yang tergabung didalamnya maupun tidak. Dengan motto sharing and growing together, IGI mengajak guru-guru untuk aktif dalam kanal pelatihan yang ada. Kini IGI sudah mempunyai 67 Kanal dengan materi yang bervariasi dan pelatih yang hebat. Para pelatih IGI adalah guru-guru itu sendiri yang langsung belajar dari praktek di sekolahnya. Itulah mengapa kanal pelatihan IGI mudah diterima di kalangan pendidik lainya.

Para peserta TOC dan fasilitator berpose bersama

Tanggal 13- 15 April IGI mengadakan TOC Matematika Fisika di SSLC Makassar, TOC ini hadir untuk melahirkan 19 kanal baru yang unik, berkualitas, dan menyenangkan bagaimana mengajarkan matematika dan fisika. Siswa tidak akan takut lagi belajar matematika, yang selama ini menjadi momok bagi mereka. Berharap kanal ini menjadi salah satu solusi ditengah merosotnya hasil Tes  Internasional (PISA), dimana Indonesia selalu diperingkat bawah.

Ketua umum IGI, Muhammad Ramli Rahim disela kesibukannya juga menyempatkan hadir dan mengawal acara TOC sampai berakhir. Beliau juga menyampaikan terkait hasil Tes PISA “Data-data Internasional selalu memojokkan Indonesia, padahal indonesia tak layak dibandingakan dengan Singapura dan Finlandia yang luas daratanya tidak lebih luas dari kabupaten maros”. Beliau menegaskan “Bukan IGI namanya jika pasrah dengan angka-angka yang memojokkan itu, IGI sadar betul luasnya wilayah Indonesia, besarnya jumlah siswa, minimnya jumlah guru dan berbagai hambatan regulasi menjadi hambatan tersendiri buat pemerintah pusat dan daerah mengejar ketertinggalan. Dari sanalah IGI dengan fleksibilitas dan militansinya hadir untk membantu pemerintah meningkatkan kompetensi Guru”.

Dihadiri 20 peserta dengan berbagai asal daerah dari Aceh sampai Papua, TOC Mat Fis berjalan sangat seru dan menarik. 20 peserta tersebut terpilih dari serangkaian seleksi dari seleksi administrasi, seleksi karya dan wawancara melalui vicon. Ada 67 guru matematika dan fisika yang mendaftar dan akhirnya terpilih 20 guru hebat tersebut. Mereka diundang ke makassar untuk dipertemukan dalam Training of Coach Matematika Fisika. 19 orang dari Aceh hingga papua ini pun memaparkan pembelajaran cara unik dan menarik dihapan para fasilitator, satu peserta tidak bisa hadir karena disaat bersamaan mendapat undangan dari jepang. Para fasilitator juga didatangkan dari berbagai daerah dan pengalaman merekapun sudah tidak diragukan lagi. Mereka adalah Bapak Abdul Karim (Semarang), Khairuddin (Aceh), Chandra S Ubayanti (Fak-Fak) dan Basri Lahamuddin (Makassar).

Proses pengambilan video untuk memperkenalkan 19 kanal pelatihan baru

Para peserta semangat dalam menyampaikan kanal baru pelatihan yang akan menjadi wadah mereka menyampaikan pembelajaran menarik dan inovatif. Mereka membuat kami sadar bahwa Faktor membuat guru menarik dan inovatif bukan umur, tempat tinggal, status kepegawaian dan  bukan juga pendidikannya. Akan tetapi yang membuat mereka semangat dalam berinovasi yaitu kemauan, kemauan untuk keluar dari zona nyaman, kemauan untuk menyelesaikan masalah, dan kemauan untuk terus belajar dan berbagi itulah yang menjadi kuncinya.

Pak Karim dan Pak Basri, dua orang fasilitator yang sudah senior, mereka mengakui bahwa umur mereka tidak lagi muda tapi presentasi mereka membuat kita kagum, mereka mengenalkan pembelajaran memanfaatkan teknologi sekarang, seperti kalkulator saintifik dan tablet. Mengingatkan kepada kita bahwa belajar matematika tidak hanya soal menghitung karena dalam dunia nyata sudah banyak alat bantu menghitung, tapi belajar matematika yang terpenting adalah soal mathematical thingkingnnya yang kelak akan berguna di kehidupan nyata para siswa. Mereka mengajarkan kepada kita yang masih muda untuk melek IT, menggunakan sumberdaya yang sudah canggih sekarang untuk membantu proses belajar mengajar lebih menarik.

Pak Felik dan Pak Ferdinand, dua orang yang kami kenal berasal dari daerah terluar Indonesia. Pak felik dari Papua Barat, untuk mencapai pulau tempat beliau ngajar perlu 6 jam perjalan laut dari sorong menggunakan kapal longboat. Di pulaunya tempat beliau ngajar belum ada listrik, penduduk setempat menggunakan Genset untuk mengaliri listrik dan biasanya hanya digunakan untuk penerangan pada malam hari. Dengan  keterbatasan seperti itu membuat beliau menjadi inovatif, beliau mengenalkan kepada kami alat peraga yang belum terpikirkan sebelumnya. Alat peraga inovatif dan menarik yang digunakan untuk membantu siswa memahami konsep matematika materi transformasi. SAGUSAPAM (Satu Guru Satu Alat Peraga) adalah kanal yang beliau bentuk untuk mengajak guru-guru di Indonesia membuat alat peraga agar proses pembelajaran lebih menarik. Pak Ferdinand dari NTT juga mengajak para guru menggunakan website untuk membuat siswa lebih senang dalam belajar. Bahkan ketika dicoba dalam TOC, para peserta ikut terbawa suasanya yang menyenangkan  ketika dipraktekan pembelajaran menggunakan website tersebut. Masih ada Pak Suparman yang berasal dari Kalimantan yang menawarkan pembelajaran menariknya berbasis Tablet. Bu Chand dari Papua yang mengajak guru-guru mengintegrasikan pelajaran dengan budaya daerah dan masing banyak lagi inovasi-inovasi yang datang dari guru-guru daerah luar. Mereka membawa semangat kita bahwa tempat tinggal  bukan menjadi hambatan.

Salah satu kanal pelatihan dari 19 kanal baru yang dibentuk

Pak Zaenul dari Jatim, beliau peserta termuda dari Jatim. Walaupun masih muda beliau sudah lulus S2 dan mempunyai segudang prestasi. SAGUSADO-FIS (Satu Guru jadi satu dokter Fisika) adalah Inovasi beliau, memberikan solusi bagi para guru fisika yang kesusahan dalam mendiagnosis masalah belajar siswa dan memberika resep yang cocok untuk solusi. Pak Amran dari Jatim, Beliau juga masih muda. Tapi beliau sudah berpengalaman dalam melatih guru-guru untuk menjadi kreatif. Kelas kreatif adalah nama kanal pelatihan beliau, dari mengajar kreatif sampai berbasis IT (Google Classroom) beliau kuasai. Mereka berdua aktif dalam menulis baik blog maupun penelitian. Bahkan salah satunya sudah membuat sebuah buku, yang berjudul IPK (Inovasi Pembelajaran Menarik). Kami kagum dengan keaktifan mereka dan yang membuat kami semakin kagum adalah mereka berdua masih berstatus sebagai GTT (Guru Tidak Tetap) yang kalau sekarang dibandingkan dengan PNS yang bersertifikasi, gaji mereka kalah jauh. Menjadi GTT memang cobaan sendiri bagi guru-guru muda, terkadang juga dibebankan tugas yang banyak dari sekolah karena berstatus guru muda. Banyak guru muda yang akhirnya menyerah dan berganti profesi, tapi tidak untuk mereka berdua. Mereka menjadi contoh bahwa umur dan status kepegawaian bukan menghambat untuk berprestasi.

Ustadz Arifin saat mempresentasikan hasil inovasinya, SGT (Sport Game Tournament)

Kesembilan belas orang yang tampil mempunyai solusi yang unik dan menarik. Mereka juga memiliki cerita yang menginspirasi. Bu Dwi Anggraeni dengan buku buatannya, memberikan solusi yang menarik untuk pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus. Bu Airin dari Jatim dan Pak Ropal Aria Silo dari Kalteng, ditengah kesibukan mereka menyiapkan lomba Guru berprestasi dan OGN (Olimpiade Guru Nasional). Mereka menyempatkan waktunya untuk hadir di TOC dan membagikan ilmu tentang inovasi yang mereka kembangkan.  Begitu banyak cerita inspirasi dari kesembilan belas peserta, mungkin itu baru sebagian kecil yang bisa kami bagikan.

Acara TOC IGI ini juga mendapat kunjungan dari Ibu Daswatia Astuti dari p4tk Matematika Yogyakarta. Begitu menariknya kegiatan ini membuat Kepala P4TK Matematika Yogyakarta terbang ke makassar menyaksikan langsung presentasi 19 guru hebat ini. Ibu Das makin kagum dengan IGI, beliau bahkan berucap “ Teman-teman IGI telah mengajariku memikirkan kemajuan Guru lebih penting dari memikirkan nasibnya sendiri”

Dari TOC Mat-Fis ini, IGI mewisuda 19 pelatih dengan kanal baru sekaligus mempersiapkan mereka melatih di 320 kabupaten/kota yang menjadi sasaran pengurus pusat IGI 2018. Bagi guru matematika dan Fisika di seluruh Indonesia yang ingin dilatihkan 19 cara unik, menarik dan berkualitas ini dapat menghubungi Ketua UMUM Pengurus Pusat Ikatan Guru mata pelajaran di 0852-7763-4479. Jika daerah guru sasaran masuk dalam daftar 320 kabupaten / kota tersebut, maka PP IGI akan menerbangkan pelatihnya ke daerah bapak Ibu dengan biaya penerbangan dari PP IGI.

elmoehammadiy
Humas MBS bagian liputan prestasi santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest