Dauroh Tahfidz, Cetak Generasi Penghafal dan Pengamal Alquran

Faidza Faraghta Fanshob, kira-kira seperti itu ungkapan yang layak disematkan kepada santri MBS kelas niha’i atau kelas akhir di penghujung aktivitas akademiknya. Setelah selesai menempuh rentetan ujian, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun pondok, kini santri yang sebentar lagi akan mendapatkan predikat sebagai alumni ma’had ini kembali disibukkan dengan ujian. Kali ini mereka harus menyelesaikan target hafalan wajib yang harus disetorkan.

Bertempat di kompleks Islamic Center Muhammadiyah Prambanan, di masjid Al Birr tepatnya, sebanyak 69 santriwan tampak terlihat sangat serius dengan mushaf di tangan sambil mulut melantunkan kalam ilahi. Disamping menghafalkan 5 juz alquran sebagai batas minimal setoran, santri juga dituntut untuk menghafalkan terjemahannya, tutur ustadz Faris Abdurrasyid selaku kordinator kegiatan. Selain itu, menurut ustadz Faris, kegiatan dauroh ini akan berlangsung selama dua pekan. Jika memungkinkan, santri bisa setor setiap harinya minimal dua setengah lembar. Ustadz yang juga pernah mengkhatamkan 30 juz alquran dalam waktu satu bulan dalam dauroh tahfidz yang pernah diikutinya ini kembali menuturkan, dengan satu hari dua setengah lembar, maka  untuk menghafalkan satu juz diperlukan waktu empat hari lamanya. Karena standard satu juz alquran untuk mushaf utsmani, terdiri dari sepuluh lembar, tandas ustadz yang juga alumni PPM MBS Sleman ini.

Selain itu, kegiatan dauroh tahfidz kali ini juga mendatangkan pengampu dari ITMAM. Ustadz Anwar Sholihul Hadi dan Ustadz Abdul Muslih, keduanya dari solo akan membantu ustadz Faris dan kawan-kawan untuk menerima setoran hafalan dari santri putra. Sementara itu di tempat terpisah, santriwati kelas XII juga tidak luput dari kegiatan wajib tahunan ini. Bertempat di dusun Dinginan, Madurejo sebanyak 58 santriwati beraktivitas membaca, menghafalkan dan juga menyetorkan hasil hafalannya. Didampingi Ustadzah Sri Nurrahmi, Istianah, Nishfi dan Chika, mereka akan mendampingi dan membersamai anak-anak selama empat belas hari ke depan. Dengan kegiatan dauroh tahfidz ini diharapkan anak-anak mampu menyelesaikan setoran hafalannya, anak-anak mampu mengetahui sejauh mana dirinya mampu menghafal alquran dalam sehari. Selain daripada itu yang lebih penting daripada setoran itu sendiri adalah menciptakan pembiasaan untuk berinteraksi dengan alquran. Hingga menjadi habit yang puncaknya melekat pada diri masing-masing santri predikat hafidz wa ‘aamilulqur’an, seorang penghafal dan pengamal alquran.

 

 

elmoehammadiy
Humas MBS bagian liputan prestasi santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest