Tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter

If the wealth is lost, nothing is lost. If the health is lost, something is lost. If the character is lost, everything is lost.

Adagium diatas menggambarkan, pendidikan karakter memiliki posisi dan peran sangat penting. Jika seseorang kehilangan harta benda atau kedudukan, maka ia dianggap tidak kehilangan apapun. Jika seseorang kehilangan kesehatannya, maka ia kehilangan beberapa hal, seperti waktu, kesempatan dan aktivitas. Tetapi jika seseorang kehilangan karakter, maka dia telah kehilangan semuanya.

Pembentukan karakter yang kaafah.

Mereka yang kehilangan karakter ibarat benda tanpa harga. Harta dan kedudukan tidak mampu membeli sebuah karakter. Karena karakter adalah kepribadian yang melekat pada diri seseorang yang diakui orang-orang disekitarnya. Secara umum, masyarakat lebih menghargai karakter mulia dibandingkan dengan kekayaan atau kedudukan.

Ironisnya, kini kita bisa melihat sebuah generasi yang terancam kehilangan karakter. Tanda-tandanya sudah jelas, banyak sekali kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, murid berani pada guru, anak berani pada orang tua, aksi vandalisme dan lain sebagainya.Lalu muncul pertanyaan, apakah hadirnya sekolah boarding menjadi alternatif pendidikan untuk menciptakan generasi berkarakter? Benarkah demikina? Mengapa?

Sekolah ilmu dan Qolbu.
Sekolah adalah tempat anak memperoleh pendidikan secara formal. Boarding School adalah sekolah dengan sistem berasrama dengan pola pendidikan 24 jam. Di sekolah inilah anak-anak belajar untuk mengembangkan kemampuannya selain memperoleh pendidikan secara akademik anak-anak juga dibina dan dibentuk kepribadiannya agar memiliki karakter yang baik. Menurut Doni Kusuma, sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter (karakter building anak). Oleh karena itu peran dan kontribusi guru sangat dominan apalagi sistem pendidikan Boarding School sebuah sistem yang mengemas proses pendidikan siang dan malam di mana selama 24 jam. Seluruh aktivitas siswa terpantau oleh guru atau Pembina asrama model pendidikan jauh orang tua ini dinilai lebih efektif untuk menciptakan lingkungan yang akademis.
Sebagai sebuah lembaga Boarding School memiliki tanggung jawab moral mendidik anak agar pintar cerdas serta memiliki karakter positif sesuai diharapkan orang tua. Novan Ardy Wiyani menyatakan Pendidikan karakter yang menjadi isu utama dunia pendidikan saat ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Latar belakang menghangatnya isu pendidikan karakter adalah harapan pemenuhan sumber daya manusia berkualitas dari sistem pendidikan. Secara umum pendidikan berperan penting untuk bukan hanya menghasilkan warga belajar dengan prestasi tinggi tetapi juga mampu melahirkan generasi baru yang berkarakter baik dan bermanfaat bagi masa depan bangsa. Dengan demikian penanaman pendidikan karakter sudah tidak dapat ditawar lagi terutama pada pembelajaran di sekolah.
Di samping lingkungan keluarga dan masyarakat menurut Sofyan Sauri dalam makalah berjudul ” Membangun bangsa berkarakter nilai iman dan taqwa” dalam pembelajaran sekolah harus membumikan gagasan pendidikan karakter caranya dengan mengimplementasikan gagasan pendidikan melalui berbagai strategi untuk membentuk peserta didik yang berkarakter. Karakter positif dibutuhkan untuk membentuk anak yang selalu berperilaku positif maka hadirnya Boarding School adalah salah satu upaya untuk menyeimbangkan ilmu dengan qolbu yang merupakan pusat pendidikan karakter. Melalui sistem ini seorang siswa digembleng dilatih dan dibiasakan untuk menjadi manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas spiritual dan emosional.
Konsep sekolah religius.
Pada umumnya Boarding School Dalam proses pembelajaran selalu mengedepankan nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu prinsip pendidikan karakter juga disesuaikan dengan nilai-nilai keislaman. Seperti yang dipaparkan oleh Ahmad tafsir (203:58) bahwa sebagai usaha yang identik dengan ajaran agama, pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidik pendidikan karakter di dunia barat. Perbedaan perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap otonomi moral dan penekanan pahala diakhirat sebagai motivasi perilaku bermoral.
Lebih lanjut Ahmad tafsir mengemukakan bahwa dalam Al Quran surat Al Hujurat 49:14 Allah berfirman bahwa inti manusia adalah Iman. Iman memiliki kedudukan tinggi dalam kehidupan manusia akibat dari inkonsistensi karakternya, qolbu dapat mengikuti hawa nafsu yang menjerumuskannya pada futur atau hanyut dalam dosa bila hanyut  pada keinginan nafsu maka seluruh kekuatan rohaninya akan tertutup dan tidak berfungsi. Oleh karenanya pembentukan karakter pada diri seseorang harus ditanamkan sejak usia dini.
Inilah yang dikembangkan pada Boarding School. Pendidikan karakter dengan mengedepankan materi keagamaan sebagai pondasi pembentuk karakter sifat siswa. Hal ini sangat jelas dalam ajaran islam. Materi pelajaran agama Islam harus disampaikan secara utuh bukan dalam bentuk parsial. Keutuhan tersebut tampak bila dilihat dari lapangan dan tujuan pendidikan dalam Islam. (Ahmad tafsir 2013:69) Pendidikan karakter yang berbasis Islam, gabungan antara keduanya yaitu menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik Mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalani kehidupan.
Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani (2013:83-86) tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya Insan Kamil yang didalamnya memiliki wawasan Kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan dan pewaris nabi. Setidaknya ada 2 tujuan yang ingin dicapai titik pertama, terbentuknya Insan Kamil atau manusia universal yang mempunyai wajah-wajah Qurani. Rumusan tentang wajah-wajah Quran yg banyak sekali antara lain wajah kekeluargaan dan Persaudaraan yang menumbuhkan sikap egalitarianisme, wajah penuh kemuliaan sebagai makhluk yang berakal dan dimuliakan, wajah kreatif yang menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan bermanfaat bagi kemanusiaan dan wajah penuh keterbukaan yang menumbuhkan integralisme sistem ilahiah (ketuhanan) ke dalam sistem insaniah (kemanusiaan) dan sistem kauniah (kealaman ).
Tujuan kedua adalah terciptanya Insan Kaffah yang memiliki tiga dimensi kehidupan yaitu dimensi religius, budaya dan ilmiah. Dimensi religius di mana Manusia merupakan makhluk yang mengandung berbagai misteri dan tidak dapat direduksi kan kepada faktor materi semata-mata. Kemudian dimensi budaya di mana Manusia merupakan makhluk etis yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kelestarian dunia seisinya. Terakhir adalah dimensi ilmiah, yaitu dimensi yang mendorong manusia untuk selalu bersikap objektif dan realistis dalam menghadapi tantangan zaman, serta berbagai kehidupan manusia terbina untuk bertingkah laku secara kritis dan rasional serta berusaha mengembangkan keterampilan dan kreativitas berpikir.
Tujuan ketiga adalah penyadaran fungsi manusia sebagai hamba khalifah Allah serta sebagai pewaris para nabi (warosatul Anbiya) dan memberikan bekal yang memadai dalam rangka pelaksanaan fungsi tersebut.
Wallahu a’lam bishowab.

 

Ustadz Sri Mawanto M.Pd
Guru IPS Sejarah PPM MBS Yogyakarta dan Pemerhati Pendidikan Karakter Anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest