Pendidikan pola asuh pondok pesantren

Mendengarkan kata pesantren, terngiang ditelinga kita sebagai sebuah institusi yang mungkin jauh dari kata modern, atau bahkan kita sering mencibirnya sebagai tempat pembuangan anak-anak yang nakal. Perkembangan Indonesia dewasa ini, bahkan mulai dari zaman penjajahan dahulu kala, peran pesantren begitu sangat besar khususnya dalam peran kemerdekaan Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari usia pesantren-pesantren di Indonesia yang banyak diantara yang sudah berusia lebih dari 1 abad. Pondok pesanten Tegalsari Ponorogo yang didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari  misalnya, pondok ini telah banyak mendidik tokoh-tokoh bangsa seperti H.O.S Cokroaminoto yang merupakan salah satu santri yang pada masa remajanya sempat mengeyam pendidikan di pesantren tersebut yang dikemudian hari, pada masa pergerakan mendirikan sarekat Islam (SI).

Lingkungan pesantren tidaklah lengkap kiranya jika tidak memiliki sosok kiai sebagai sosok sentral seluruh kebijakan-kebijakan pesantren. Sosok-sosok kiai tersebut memiliki kharisma serta akhlaq budi pekerti yang luhur sehingga pada akhirnya nanti ikut berpengaruh dalam pendidikan karakter seorang santri. Di masa modern seperti ini ketika sekolah-sekolah non pesantren makin pesat perkembangannya, tidaklah kemudian bisa serta-merta menggantikan pesantren atau bahkan mensubtitusikannya. Perkembangan sekolah-sekolah non pesantren yang dirasa belum dapat mengakomodir pendidikan karakter bagi siswanya kemudian berubah menjadi sekolah-sekolah full dayseperti Sekolah Dasar Islam Terpadu, Sekolah Menegah Pertama Islam Terpadu, Sekolah Menengah Atas Terpadu dan lain sebagainya dengan harapan dapat mengakomodir pendidikan serta kebutuhan akan pendidikan karakter bagi siswa. Tuntutan hidup modern yang berdampak pada pola kerja seorang pekerja yang mengharuskannya kerja hingga lebih dari 8 jam sehari menyebabkan tumbuh kembang anak menjadi terabaikan menjadikan sekolah-sekolah terpadu menjadi solusi pilihan dalam menjaga tumbuh kembang anaknya. Akan tetapi peran sekolah terpadu tersebut dalam menjaga tumbuh kembang anak tidaklah dapat dibandingkan dengan pola asuh pesantren yang mengasuh santri-santrinya selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Sosok kiai yang juga ikut berperan aktif dalam menjaga serta mendidik akhlak dan mental santri sehingga menjadi manusia yang paripurna sungguh sangat jauh jika dibandingkan dengan pola asuh sekolah-sekolah terpadu. Gempuran teknologi dewasa ini juga ikut berperan dalam pendidikan akhlak dan mental siswa, banyak terjadi kasus-kasus asusila, kekerasan dan lain sebagainya juga merupakan dampak negatif dari perkembangan teknologi dewasa ini yang tidak diimbangi dengan pendidikan mental dan akhlaq yang memadai.

Pola asuh pesantren yang melarang santri-santrinya untuk tidak membawa segala macam peralatan elaktronik, merupakan cara yang ampuh dalam menanggulangi dampak negatif teknologi informasi dewasa ini. Namun, pesantren bukanlah institusi pendidikan yang tidak ikut serta dalam gemerlapnya teknologi informasi dewasa ini, manajemen serta pola pendidikan yang diterapkan agar santri-santrinya tidak gaptek adalah dengan tetap mengajarkan mereka penggunaan teknologi informasi yang terawasi oleh ustadz-ustadz yang expert dalam hal teknologi informasi menjadikan santr-santri pondok pesantren dapat bersaing dalam dunia nasional maupun dunia internasional. Tidak sedikit santri-santri lulusan pomdok pesantren telah mengikuti ajang-ajang perlombaan dalam bidang sains dan teknologi, dalam hal ini adalah teknologi informasi, salah satu contohnya adalah Muhammad Adi Fatah, seorang santri Muhammadiyah Boarding School, ynag termasuk dalam 8 besar finalis dalam lomba…

Sehingga pola asuh pondok pesantren dewasa ini merupakan pilihan yang tepat bagi orangtua anak dalam mencari institusi pendidikan yang mendidik secara totalitas baik dari segi mental, akhlak hingga kemampuan life skill.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest